written by Armadina
Cheesecake Factory, Jakarta, Kabarindo- Jam semakin merangkak naik menunjukkan pukul setengah tiga sore saat sesosok wanita tinggi semampai tiba disebuah tempat makan di bilangan Tebet. “Duhhh…macet banget tadi padahal udah deket”, ungkapnya seraya mengambil posisi duduk tepat di depan saya. Sosok wanita bertubuh semampai dan berwajah oriental dihadapan saya tak lain adalah Dominique Agisca Diyose, salah satu model papan atas Indonesia yang namanya mulai dikenal publik saat ia memainkan tokoh Ming dalam film Berbagi Suami 2006 silam.
Sempat menetap di Semarang, Dominique sekeluarga memutuskan berpindah ke Ambarawa tepatnya di daerah Bandungan saat Domi, panggilan akrab Dominique, duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar. Perpindahan dari salah satu kota sentral di Pulau Jawa, ke sebuah kota kecil nyatanya menyisakan kenangan tersendiri bagi Domi. Deretan hutan pinus, sepinya daerah pemukiman penduduk, lalu lalang para warga sekitar menuju pasar, merupakan sekelumit dari kenangan Domi akan Bandungan yang ia jelaskan sebagai “puncak”nya Ambarawa. “Waktu kelas 3 SD, ada project untuk membuat kesenian topeng. Saya sama teman-teman satu grup sampai harus ke kububuran untuk ambil tanah liat…hahahaa. Waktu itu saya termasuk tomboy”, kenang model kelahiran 7 Agustus 1988 ini.
Pekerjaan sang Ayah sebagai wiraswasta yang sering kali pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan, membuat Dominique terbiasa ditinggal bersama Ibu dan Kakak laki-lakinya. “Saya sering main sama teman-teman Kakak saya. Disana(Bandungan) rata-rata dari kelas ekonomi yang menengah ke bawah, jadi main masih tradisional dan seadanya”, ungkap Dominique yang merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara.
Jarak sekolah yang cukup jauh dari rumah kediamannya membuat Dominique terbiasa menerobos sawah-sawah dan berjalan kaki melewati pematangnya setiap kali menuju sekolah. “Kalau mau ke sekolah harus melewati sawah-sawah, nanti baru ada pemukiman yang lebih besar, ada orang-orang, ada perumahan dan ada sekolah saya”, tutur Dominique yang masih mengingat dengan baik bagaimana suara burung hantu di kala malam di sekitar lingkungan rumahnya. Lingkungan rumah kediamannya yang masih banyak terdapat hutan-hutan, membuat Dominique melakukan persiapan esktra setiap malam saat ia akan terlelap tidur yaitu mengenakan kaus kaki dan selimut tebal guna mengusir rasa dingin yang menggigit.
Awal Ketertarikan Dengan Dunia Modeling
Tumbuh dan dibesarkan ditengah keluarga kecil yang hanya beranggotakan 4 orang keluarga inti, Dominique telah memperlihatkan ketertarikannya akan dunia seni sejak bersekolah di Taman kanak kanak. “Saat hari Kartini waktu saya masih TK, saya inget banget, saya inget banget, saya pakai baju adat Jawa, difoto dan saya nggak tau kenapa, tiba-tiba saat difoto seperti refleks pose…hehehee”, ceritanya sembari tertawa ringan.
Ketertarikan Dominique pada dunia seni semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Mulai dari belajar seni tari sampai mengikuti beberapa ajang modeling di Semarang. Kegemarannya menyaksikan acara Fashion Show di Televisi semakin membuat Dominique tertarik terjun di dunia modeling. Menginjak kelas 2 SMP, Dominique akhirnya mengungkapkan keinginannya pada sang Mama untuk belajar dan memperdalam dunia modeling dengan lebih serius. Bak gayung bersambut, sang Mama mendukung penuh apa yang diinginkan anak bungsunya ini. Dukungan penuh dari keluarga kemudian memantapkan langkah Dominique mengikuti kelas modeling di John Cassablanca modeling school.
Sembari memperdalam ilmu modelingnya di John Cassablanca, Dominique mulai membuat portfolio dirinya yang kemudian menjadi modal awal saat ia bergabung di Ellite models, sebuah agensi model ternama kala itu. Rentetan job yang terus berdatangan padanya sejak bergabung di Elitte models, membuat Dominique harus menerima beberapa konsekuensi dalam hal pendidikan. Model yang pernah berperan sebagai Sandra dalam film Karma ini sempat beberapa kali absen pada jam pelajaran untuk urusan pekerjaan. “Saya beberapa kali harus melewati jam pelajaran di sekolah, hal itu yang membuat saya memanfaatkan waktu istirahat sebaik mungkin untuk mengerjakan PR dan mengejar ketertinggalan. Karena biar bagaimanapun saya adalah tipe orang yang concert terhadap pendidikan”, terang Dominique serius.
Memulai karier di usia belia tak lantas membuat Domi merasa kehilangan masa remajanya, yang dimana remaja pada umumnya di usia yang sama seperti Domi kala itu yakni 13 tahun masih lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain dengan teman-teman seusianya, “Saya senang berada di dunia modeling, bisa berada di tahap yang seperti ini, sesuai dengan keinginan saya”.
Dominique lantas menceritakan tentang masa remajanya yang sedikit berbeda diantara para remaja lain, di luar keterlibatannya dalam dunia modeling. “Saya sadar sejak kecil saya memang sedikit berbeda dalam hal penerimaan terhadap sesuatu atau apapun itu dari teman-teman seusia saya. I think, I’m a Bit Bigger Than My Age”, ujar Domi yang lebih menyukai menyendiri di rumah mengerjakan PR atau membaca buku dibandingkan jalan-jalan ke Mall atau sekadar kumpul kumpul tanpa tujuan yang jelas seperti kebanyakkan remaja seusianya dulu.
Karier yang ia tekuni sebagai model, membawa Dominique merasakan berbagai pengalaman tak terlupakan. Mulai dari hal biasa yang pastinya dialami semua model yaitu dapat mengenakan berbagai busana indah dari para desainer papan atas, merambah dunia entertainment lainnya, sampai pengalaman jatuh atau nyaris jatuh diatas catwalk. Namun kali ini Dominique memiliki cerita lain tentang salah satu pengalamannya yang cukup berkesan selama bergelut di dunia modeling.
“Pernah waktu opening ZARA di Senayan City. Semua model sudah melakukan fitting baju dan segala macam yang akan diperagakan untuk acara opening tersebut. Pada waktu fitting sepatu, menurut saya sepatunya oke oke aja, tapi saat show time, itu nggak tau kenapa sepatu itu jadi seperti kebesaran”. Sempat terlepas beberapa kali dari kakinya, Dominique yang merasa tidak mungkin jika terus menerus membenarkan letak sepatunya dan membiarkan model lain setelahnya menunggu dibelakang, segera mengambil langkah sendiri dengan melepas kedua sepatu yang ia kenakan dan menentengnya hingga depan area show. Dengan sikapnya yang tenang seolah tak terjadi apa apa, Dominique terus melanjutkan pose di hadapan para penonton show. Tak disangka-sangka, aksi lepas sepatu Dominique justru membuat seluruh penonton show bertepuk tangan dan memuji model berdarah campuran Jawa-Jepang-Cina ini. “Saya jadi seneng ternyata nggak malu-maluin amat, masih bisa juga otaknya mikir dan sampai after show dibilangin “Jadi nanti kalau lagi incase itu kayak Domi ya”,hahahaaa…”, ujar Dominique seraya menirukan apa yang dikatakan padanya.
Book Lovers
Seperti banyak dikatakan orang tentang “Buku adalah gudang ilmu”, begitu pula yang dialami Dominique melalui kegemarannya membaca sejak kecil. Majalah Bobo, Tabloid Fantasi, Majalah Intisari dan beraneka macam bacaan sekolah adalah bacaan-bacaan umum yang ia baca sejak kecil. Beranjak remaja tepatnya saat duduk di bangku kelas 2 SMP, Dominique yang kala itu sudah mulai terjun di dunia modeling memulai aktifitas berburu bacaan di toko buku. Dari bagian remaja, Dominique mencoba untuk membaca buku-buku berbahasa Inggris yang pada awalnya ia maksudkan sekaligus untuk melatih perbendaharaan kata Bahasa Inggris yang ia miliki.
“Jenis bacaan yang sampai saat ini menjadi favorit saya adalah literature dan general fiction. Harus yang ada sosialnya, ada permasalahan-permasalahan yang dialami masyarakat sehari hari, jadi saat baca saya juga bisa membayangkan, oiya ya ada masalah-masalah yang seperti itu, ya enggak jauh sama nonton film. Tapi saya lebih suka baca karena imajinasinya lebih kuat…hehehee”, terang Dominique penuh semangat.
Saat ditanya siapa pengarang favoritnya Dominique segera mengatakan beberapa nama yang seperti telah ia hapal diluar kepala seperti J.M Coetzee, seorang penulis peraih Nobel Prize in Literature di tahun 2003. “Banyak banget buku yang dia tulis, diantaranya Disgrace, Elizabeth Costello, Slow Man, Diary of a Bad Year, dan saya baca semua karyanya. Saya suka buku-buku karyanya karena gaya penceritaannya yang gampang, nggak yang susah, tapi plot-plot ceritanya “dapet”, jadi senang bacanya”, tambah Dominique. Untuk penulis lokal sendiri Dominique adalah salah satu penyuka karya-karya Dewi “Dee” Lestari yang banyak dikenal dengan novel Supernova, dan Y.B Mangunwijaya yang merupakan penulis dari Trilogi Roro Mendut, serta Windy Ariestanty yang juga editor dari Gagas Media.
Kecintaannya terhadap buku tak lantas membuat Dominique menjadi seorang yang harus membawa buku kemanapun ia pergi, “Saya pecinta buku yang termasuk mencintai cara merawatnya juga, Jadi aku pikir kalau misalnya saya bawa buku kemana mana tapi tidak tidak dibaca kan sayang, bukunya bisa rusak, ketekan, kelipet lipet, atau kotor gara-gara kehimpit tas atau barang-barang lainnya. Jadi kalau saya tahu buku itu nggak akan kebaca lebih baik nggak saya bawa”.
Tidak hanya gemar membaca sejak kecil, Dominique juga terbiasa dengan dunia tulis menulis walau lebih banyak hanya sebatas corat coret dan jurnal keseharian yang ia alami. Pernah diminta menulis untuk salah satu kolom disebuah majalah perempuan, Dominique masih merasa enggan saat ditawari untuk membuat sebuah biografi atau autobiografi. “Biografi biasanya menceritakan rentang waktu yang cuku lama, satu atau dua dekade, sementara saya masih umur segini dan segala sesuatu dapat terjadi secara instant. Sedangkan bagi saya, jika ingin membuat buku atau biografi banyak sekali bagian2 yang harus dipikirkan, tidak seinstan itu. Jadi, saya pikir nanti aja dulu deh…hehehee”, jelas Domi kemudian.
Malaikat Penolong Bagi Sesama
Bermula dari ajakan seorang teman untuk bergabung di Yayasan Cinta Anak Bangsa yang meruapakan sebuah Yayasan yang bergerak dibidang edukasi yang bertugas mengedukasi kaum muda untuk mengerti dan memahami tentang apa itu drugs atau obat-obatan terlarang serta mengadakan kampanye-kampanye tentang bahaya drugs, kini Dominique telah terlibat aktif didalamnya sebagai salah satu Angel dalam program Angel of Change yang merupakan salah satu program penggalangan dana dari Yayasan Cinta Anak Bangsa.
Selain bergerak di bidang edukasi tentang bahaya drugs serta obat-obatan terlarang lainnya, Yayasan Cinta Anak Bangsa juga memiliki sebuah Rumah Belajar yang dinamakan Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa. Rumah Belajar Cinta Anak Bangsa adalah sebuah tempat belajar yang ditujukan bagi anak-anak kurang mampu dan juga anak-anak yang keluar dari sekolah formal karena beberapa alasan tertentu dalam jenjang pendidikan yang setara paket C atau setingkat SMA.
Salah satu hal yang membuat Dominique tergerak untuk bergabung dalam Yayasan Cinta Anak Bangsa tidak lain dikarenakan pengalaman sebagai siswi homeschooling yang pernah ia alami. Melalui pengalamannya sebagai siswi homeschooling itu, Dominique mencoba untuk membagi kisah, menceritakan mengapa ia akhirnya memilih homeschooling, motivasinya, serta kendala-kendala yang ia temui pada seluruh anak-anak yang bernaung dalam Yayasan yang bergerak di bidang edukasi tersebut. “Saya sangat senang bisa berbagi pengalaman dengan mereka karena bisa menginspirasi banyak orang. Mendatangi pemukiman kumuh dan bertemu dengan anak-anak yang punya spirit untuk maju, menjadi suatu pengalaman yang berharga bagi saya”, imbuh Dominique.
“Edukasi atau pendidikan adalah sesuatu yang tidak mengenal umur, tidak mengenal waktu. Selama mereka masih memiliki semangat dan keinginan belajar, mari kita bantu karena jika kita lihat, tidak hanya saya, kamu, mereka, apalagi yang umurnya lebih muda nantinya akan menjadi penerus bangsa”, tambah Dominique lagi.
Didapuk sebagai duta Angel Of Change, Dominique memiliki presepsi tersendiri tentang “Angel” atau Malaikat, “Jika kita membicarakan pengertian Angel dalam lingkup YCAB(Yayasan Cinta Anak Bangsa-red), Angel adalah kita menjadi malaikat atau bisa dikatakan penolong bagi anak-anak dalam YCAB itu sendiri, bukan lantas memposisikan diri kita menjadi orang suci, tapi kita justru memposisikan bahwa “Aku peduli sama kamu”, dengan memiliki rasa kepedulian sedikit aja, kita punya rasa peduli, kita punya rasa simpati, kita punya tenggang rasa, itu sudah bisa disebut malaikat karena kamu telah berbagi kebaikan untuk mereka yang lebih membutuhkan. Hanya dengan sharing, menyisihkan sedikit rejeki, atau hanya dengan mendengarkan cerita dari mereka atau melakukan kebaikan kecil menolong sesama, itu sudah menjadi malaikat”, jelasnya panjang lebar.
D For Dominique Diyose, Tentang “Cantik”, Prinsip dan Impian
Pekerjaannya di dunia modeling, sudah barang tentu tidak bisa dilepaskan dari penampilan secara fisik yang menjadi salah satu modal utama bagi seorang model. Menjaga penampilan fisik dan selalu berpenampilan prima di depan khalayak sudah menjadi salah satu agenda wajib tidak hanya bagi Dominique tetapi juga bagi para model lainnya. Namun jika ditanya, apa devinisi cantik bagi Dominique, ia tak akan menjelaskannya secara singkat, karena bagi Dominique kecantikan adalah suatu hal yang complicated yang tidak bisa terlepas dari 2 hal lainnya, yakni Brain dan Behavior.
“Menurut saya, kecantikan yang dinilai dari fisik itu susah, karena sangat relative, secara kasat mata fisiknya saja, ini cantik ya, itu cantik ya.Tapi bagi saya jika kita membicarakan cantik atau tidak, itu It’s different than that, itu benar-benar complicated dan lebih kompleks lagi, relative. Karena di dalam cantik itu harus ada, Beauty behaviornya dan beauty otaknya, jadi brain itu penting sekali agar seseorang bisa tau dimana ia ditempatkan dan bagaimana cara dia bersikap terhadap sekelilingnya, bagaimana dia harus mengambil keputusan untuk suatu hal. Itu yang menurut saya bisa dikatakan cantik”, ungkap gadis pemilik tinggi 175 cm ini.
“Jadi, susah memang jika membicarakan cantik, tapi memang untuk first impression, kalau dia otaknya juga pinter, bisa berwawasan luas, brainnya juga baik, pasti dia taukan bagaimana caranya untuk mempercantik diri. Semua berhubungan jika 3 hal tadi ditarik akan bermuara ke titik yang sama. First Impression itu penting, kenapa akhirnya menjadi penting seperti itu karena dia pinter sih…hehehee”, ujar Dominique menambahkan.
Sebagai seorang individu tentunya Dominique memiliki sebuah prinsip hidup yang menjadi acuan baginya. Ketika ditanya apa prinsip hidup seorang Dominique Diyose yang bisa dibagi kepada pembaca, Dominique kembali menjawab dengan mantab “Live Is All About Choice. Hidup ini pilihan. Live Is All About Choice so be gradefull when you have a choice. Jadi segala macam dalam hidup ini juga memuat segalanya tentang pilihan, jadi apapun yang kamu pilih, apapun yang kamu yakini itu baik, jalani saja dengan sebaik-baiknya”.
Karier cemerlang yang dimiliki Dominique saat ini nyatanya menyisakan suatu impian yang masih dipendam Dominique hingga saat ini. Sebuah impian yang berangkat dari masa kecilnya. “Naik kuda lagi dong…hahahaaa. Naik kuda atau naik sepeda lagi dong, udah susah naik sepeda sekarang, polusi dimana mana”, celetuknya santai mengakhiri pembicaraan sore itu.








An interview with Dominique was published on Kompas newspaper today. The article discusses Domi's love and support for Indonesian batik and traditional dresses. Below is the copy of the article, courtesy of Kompas.com
Dominique just finished shooting another Film for Television, this time co starring with Ben Joshua and Dian Ayu. The title of the film is "Special Day with Andra" and is currently on post-production process. Stay tuned for information when it will be aired. Meanwhile do enjoy several behind the scenes pictures and the synopsis of the Film:

